postheadericon PINTAR CALISTUNG merayakan Natal 2016

postheadericon Mengapa metode Baca Tulis Hitung di Balistung lebih baik? (47)

Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, saya selaku orang tua dari wahyu memilih tempat bimbel di Balistung merupakan pilihan yang tepat karena melihat dan perkembangan anak saya tumbuhnya minat untuk baca dan meningkatkan kemampuan belajar anak. (Orang tua dari I Made Wahyu Suarjana)

postheadericon Mengapa metode Baca Tulis Hitung di Balistung lebih baik? (46)

Awal kenal Balistung dari Facebook, hari itu juga langsung trial ke Balistung karena tertarik dengan foto, video kegiatan pembelajaran disana. Awalnya Andhika hanya mengenal warna dan itu pun tidak banyak, 2 minggu di Balistung Andhika sudah mengenal bentuk, angka dan warna. Sekarang Andhika sudah mulai belajar huruf dan mengeja. Terima kasih Balistung… Sesuai dengan logonya “Like School, Only Happier”, Andhika tidak pernah bosan berangkat les selalu semangat! (Orang tua dari Putu Andhika Jaya Pratama Putra)

postheadericon Mengapa metode Baca Tulis Hitung di Balistung lebih baik? (45)

 

Danendra belajar di Balistung sudah 3 bulan, awalnya tidak terlalu mengenal cara menulis angka dan huruf, tetapi sekarang sudah bisa menulis angka dan huruf dengan baik. Danendra itu tidak pernah mengeluh atau malas kalau berangkat les ke Balistung , selalu semangat karena selain belajar ada permainan edukatif yang selalu membuat Danen merasa senang dalam belajar di Balistung. (Orang tua dari Putu Danendra Putra).

postheadericon Pelestarian Bahasa Bali Melalui Pendidikan Anak Usia Dini

Bahasa Bali merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia yang digunakan oleh sebagian besar penduduk Bali (etnis Bali) sebagai bahasa percakapan sehari-hari (alat komunikasi), baik dalam rumah tangga, rapat-rapat adat, perkawinan, kematian, dan aktivitas-aktivitas kehidupan lainnya. Bahasa Bali digunakan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan budaya Bali.

Belajar bahasa Bali tidak hanya di sekolah formal semata, namun belajar bahasa Bali sebaiknya berawal dari lingkungan keluarga yaitu ketika pertama kali seorang anak biasa berbicara, bahasa yang pertama yang diajarkan oleh orang tua adalah bahasa ibu yaitu bahasa Bali itu sendiri, sehingga anak tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri. Cara yang mudah dan efektif memperkenalkan bahasa Bali terhadap anak-anak usia dini selain dengan berkomunikasi secara langsung yaitu orang tua dapat memperdengarkan lagu-lagu anak-anak  yang menggunakan bahasa Bali atau yang biasa disebut tembang Bali. Misalnya saja seperti lagu meong-meong dan juru pencar, dimana lirik lagunya seperti yang tertera di bawah ini.

“Meong-meong alih ja bikule, bikul gede-gede, buin mokoh-mokoh, kereng pesan ngerusuhin, juk meng. Juk kul”.

“Juru pencar (2x), jalan mai mencar ngejuk ebe. Ebe gede-gede (2x), di sawana ajaka liu”.

Ketika anak mendengarkan lagu-lagu yang menggunakan bahasa Bali secara berulang-ulang, otomatis mereka tidak asing lagi dengan bahasa Bali yang mereka dengarkan dalam lagu. Hal tersebut dapat menumbuhkan minat anak dalam menggunakan bahasa Bali itu sendiri. Selain itu dalam nyanyian bahasa Bali pun mengandung makna-makna yang jika ditelusuri lebih dalam memiliki makna yang sangat dalam dan lagu atau tembang Bali dapat membentuk karakter yang ada dalam diri anak. Selain melalui tembang, orang tua juga dapat memperkenalkan bahasa Bali melalui Satua Bali (dongeng). Mungkin sama dengan daerah lain di Indonesia, di Bali cukup banyak terdapat cerita rakyat yang diajarkan secara turun temurun tanpa diketahui siapa pengarangnya. Cerita-cerita tersebut di Bali disebut dengan istilah satua. Di Bali cukup banyak satua yang sampai saat ini masih digunakan sebagai salah satu materi pembelajaran bahasa daerah Bali salah satunya satua I Siap Selem. Berikut ini disajikan contoh kandungan nilai karakter dalam satua Bali I Siap Selem.

Satua Men Siap Selem ini mengisahkan dua tokoh yang berbeda karakter. Men Siap Selem dikisahkan sebagai sosok individu yang berkarakter baik, sedangkan Meng Kuuk sebagai tokoh jahat. Pada akhirnya, Meng Kuuk yang berniat jahat ingin memangsa semua anak Men Siap Selem mendapatkan malapetaka, giginya rontok akibat menyergap batu yang dikira anak-anak ayam. Jadi, satua ini bertema ajaran Karma Phala. Barang siapa berbuat baik akan memetik pahala yang baik, sementara yang menanam kejahatan akan memetik buah karma yang tidak baik. Guru dapat memakai satua ini untuk mendidikan anak-anak agar selalu berbuat kebajikan dan tidak punya keinginan untuk menyengsarakan orang lain.

Bahasa Bali sangat penting diperkenalkan sejak anak masih kecil, sehingga sejak dini mereka sudah memiliki rasa cinta dan bangga terhadap bahasa ibu yaitu bahasa Bali. Di Zaman sekarang ini masih banyak orang tua yang seakan-akan melupakan mendidik putra-putri mereka untuk menggunakan bahasa Bali. Jika bukan generasi muda yang melestarikan bahasa Bali, lalu siapa lagi?. Bahasa Bali merupakan bahasa Ibu yang wajib dilestarikan. (bu Suci)