Archive for March, 2013

postheadericon 7 Rambu Membaca

Niatnya benar, ingin mengenalkan dan membiasakan anak cinta buku. Tapi jika caranya salah, maka kebiasaan membaca bisa membuat kesehatan mata balita rusak. Ini rambu-rambu membaca yang benar.

Tepat jika Anda ingin mengajarkan balita Anda membaca sejak dini. Dan jika akhirnya balita Anda senang membaca, biasakan pula dengan cara-cara membaca yang benar, agar kesehatan matanya tetap terjaga. Berikut 7 rambu membaca:

1. Sambil tiduran. Posisi ini mengundang risiko. Pertama, mata cepat lelah, sebab tangan mudah pegal sehingga posisi buku makin turun. Ini membuat jarak buku dengan mata semakin dekat. Saat berbaring, otot mata pun akan menarik bola mata ke arah bawah, sehingga bola mata tidak dalam kondisi relaks. Kedua, ketika berbaring, biasanya cahaya yang menerangi tulisan tidak maksimal.
Tip bagi orangtua: Biasakan anak membaca dalam posisi duduk tegak. Jika ingin membacakan dongeng sebelum tidur, tumpuk bantal sampai agak tinggi untuk Anda dan balita bersandar. Jangan dulu meredupkan lampu sebelum acara mendongeng tuntas.
2. Membaca di mobil. Balita akan mual dan pusing setelah beberapa menit membaca. Penyebabnya, mata baita terfokus pada tulisan di buku yang diam tidak bergerak. Padahal, telinga – yang menjadi pusat pendeteksi keseimbangan tubuh –  mengirimkan informasi bahwa balita sedang melakukan gerakan dan berpindah tempat. Informasi tak sejalan itu bisa membingungkan otak sehingga memicu keluhan pusing, mual dan pandangan berkunang-kunang.
Tip buat orangtua: Supaya balita supaya tidak rewel dalam perjalanan, lebih baik putar lagu favoritnya atau mengajaknya ngobrol. Menonton DVD di mobil sama berisikonya dengan membaca.

3. Di tempat gelap.
 Di ruangan gelap, mata harus mengatur fokus secara maksimal agar obyek terlihat jelas. Memfokuskan penglihatan pada huruf-huruf kecil akan membuat mata bekerja ‘mati-matian’, sehingga cepat lelah dan perih. Kekurangan cahaya juga mendorong balita untuk memegang buku lebih dekat ke matanya untuk memperjelas penglihatan. Kebiasaan itu bisa membuat matanya berisiko terkena rabun jauh atau myopi.
Tip bagi orangtua: Periksa kekuatan lampu utama dan lampu meja di ruang belajar atau ruang di tempat anak sering membaca. Untuk penerangan sehari-hari, bola lampu susu lebih baik daripada neon, sebab memiliki filter yang meredam cahaya silau. Untuk lampu duduk, pilih lampu berkekuatan 40-60 Watt.

4. Terlalu lama.
 Terlalu lama memfokuskan pandangan membuat otot mata bekerja berat dan berisiko menimbulkan perubahan pada fokus mata, sehingga berpotensi menimbulkan rabun jauh. Biasakan balita mengistirahatkan mata dengan memejamkan mata atau memandang ke arah lain yang jauh, setiap 30 menit sekali. Ingatkan juga untuk sering berkedip guna membersihkan dan mempertahankan kelembapan mata. Nasihat untuk sering melihat pemandangan hijau juga ada baiknya diterapkan setiap hari.
Tip bagi orangtua: Jangan senang dulu melihat balita tahan membaca buku berjam-jam. Pasalnya, bisa-bisa tak lama lagi dia harus berkacamata. Ajak ia beraktivitas fisik atau bermain musik sebagai selingan membaca.

5.  Terlalu dekat. Jarak antara buku dengan mata terlalu dekat akan mengurangi luas bidang pandang dan membuat mata bekerja lebih keras. Sebaliknya, jarak terlalu jauh membuat tulisan kurang jelas dan terlihat kabur. Jarak pandang ideal membaca adalah 30 cm dari mata.
Tip bagi orangtua: Karena terlalu antusias, balita sering menarik buku sedekat mungkin ke matanya. Ingatkan balita agar selalu menjaga jarak pandang yang aman.

6. Di bawah terik matahari.
 Sinar matahari yang terik akan menyilaukan dan membuat pantulan cahaya yang tidak nyaman dari buku ke mata. Paparan sinar ultraviolet berlebihan ke mata juga berpotensi merusak struktur anatomis organ penglihatan.

Cahaya lampu neon, layar televisi, komputer, dan sinar matahari adalah penghasil sinar biru, sinar yang bisa merusak mata. Meski tidak menyebabkan kebutaan total, tetapi bisa menimbulkan kelainan penglihatan, seperti luka atau bercak di retina mata.
Tip bagi orangtua: Membaca di tepi kolam renang? Boleh, tapi sebelum pukul 9.00 pagi atau setelah pukul 16.00 sore ketika sinar matahari tidak menyengat.

7. Sambil makan. 
Selagi makan, separuh aliran darah dari seluruh tubuh difokuskan ke perut untuk mencerna makanan. Itu sebabnya, membaca sambil makan akan mengurangi asupan zat gizi ke mata, dengan demikian bisa melemahkan otot mata. Akibat paling ekstrem, kegiatan membaca sembari makan bisa membuat pandangan balita agak kabur pada saat itu.
Tip bagi orangtua: Biasakan balita makan di meja makan bersama anggota keluarga lain. Makan sambil membaca atau menonton TV dan bermain akan membuat balita kurang menikmati makanan dan makan lebih lama dari seharusnya.
Yuk, ajarkan kebiasaan membaca yang benar pada balita Anda. {Sumber}