Archive for February, 2014

postheadericon Ini Kata Mendikbud tentang Calistung di Tes Masuk SD

Beberapa sekolah dasar swasta mengadakan tes membaca, menulis dan menghitung (calistung) untuk seleksi masuk. Tes calistung ini dinilai memberikan beban yang berlebihan pada anak usia dini yang belum pada saatnya.

“Tes calistung? Itu kan sama dengan belajar nyetir, tapi syaratnya harus bisa menyetir. Berarti dalam kasus ini, saya harus mengajarkan anak-anak TK calistung. Hal tersebut sama artinya dengan kita memberikan beban belum pada saatnya. TK itu bukan sekolahan, tapi taman bermain,” tegas Mendikbud M Nuh saat ditanya tentang tes calistung untuk masuk SD.

Hal itu disampaikan Mendikbud M Nuh dalam jumpa pers tentang buku kurikulum 2013 untuk tahun ajaran 2014 di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (13/2/2014).

“Di sana (TK) tidak harus diberikan pelajaran mengenai berhitung, membaca. Jadi calistung tidak dibenarkan dipakai sebagai alat untuk masuk SD karena di SD-lah baru diajarkan calistung,” tutur dia.

Apakah ada sanksi bagi SD yang mengenakan tes calistung sebagai saringan masuknya? “Jadi, tentu nanti setiap aturan main tentu ada sanksi,” tegas Nuh. (Sumber)

postheadericon Calistung Saat Tes Masuk Sekolah di Mata Orang Tua

image

Baca, tulis, hitung, alias calistung digunakan sebagai salah satu instrumen tes masuk di sejumlah SD swasta. Ada yang menjadikannya sebagai salah satu patokan untuk penerimaan, namun ada juga yang hanya menjadikan tes itu sebagai cara untuk mengetahui kemampuan calon siswanya. Nah apa kata orang tua tentang calistung di tes masuk SD ini?

“Kalau tes calistung nggak setuju. Tapai kalau wawancara atau psikotes setuju karena penting banget untuk tahu seorang anak sudah siap masuk SD atau belum. Soalnya banyak orang tua yang anaknya belum siap tapi dipaksa, akhirnya anaknya tantrum di sekolah dan mengganggu proses belajar mengajar,” kata Dian, seorang ibu dari dua anak kepada detikHealth, Rabu (12/2/2014).

Menurut Dian, saat tes masuk, tidak seharusnya anak dibebani banyak hal dan berharap terlalu banyak pada si anak. Bahkan kalau mungkin anak diberi kesempatan untuk mencoba belajar di sekolah tersebut (trial). “Jadi si anak nggak kaget sama ritme sekolah di sana,” imbuhnya.

Ramadani juga tidak setuju jika calistung digunakan sebagai tes yang menentukan diterima tidaknya anak di sekolah tertentu. Sebab menurutnya keterampilan itu justru diajarkan di SD. Kendati beberapa anak sudah bisa calistung sejak TK, namun tak dipungkiri masih ada anak yang belum mendapat kemampuan tersebut.

“Saat anak saya mau masuk SD memang ada calistung, tapi itu hanya untuk memposisikan anak. Kalau yang sudah lancar calistung nanti masuk ke kelas yang sama. Kalau belum lancar dikumpulkan di kelas lain, jadi bisa lebih diajarkan keterampilan itu oleh gurunya,” sambung ayah 3 anak itu.

Sementara itu Evien setuju jika calistung dilakukan oleh anak sebelum masuk sekolah. Menurut pendapatnya, dengan tes tersebut bisa diketahui kemampuan anak apakah nantinya bisa mengikuti pelajaran atau tidak.

“Karena kan dasarnya membaca, menulis, dan berhitung. Karena itu perlu juga ada tes seperti itu. Kasihan anaknya kalau belum bisa calistung, sementara teman-temannya sudah bisa, jadinya dia ketinggalan,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Rina. “Kasihan nanti anaknya kalau belum bisa calistung, sedangkan yang lain sudah,” katanya.

Tambur, petugas penerimaan siswa baru di SD Bunda Mulia, Jakarta Pusat, menyebut sekolahnya mengadakan tes calistung untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca, berhitung, dan menulis anak. Sehingga ketika terdapat kekurangan pada anak, pihak sekolah dapat memberitahukan kepada orang tua untuk lebih mempersiapkan anaknya sebelum memasuki tahun ajaran baru.

“Ini juga untuk menentukan uang pangkal. Karena di sini jika hasil tesnya semakin bagus maka uang pangkalnya pun akan semakin murah,” ujarnya.

Bukankah calistung bisa dipelajari saat sekolah sudah berjalan? “Untuk saat ini karena kurikulum semakin tinggi, jadi anak sewaktu masuk sekolah sudah harus bisa membaca, berhitung, dan menulis. Karena kan bukunya juga bukan buku ejaan, jadi sudah tidak seperti dulu. Bukannya membaca, berhitung, dan menulis tidak dipelajari. Dipelajari juga, tetapi saat masuk siswa sudah harus bisa membaca, berhitung, dan menulis,” terang Tambur.

Sedangkan Mansur, petugas Tata Usaha Al-azhar 13 Rawamangun, Jakarta Timur menyebut sekolahnya tidak melakukan tes pada calon siswa. Yang dilakukan hanyalah observasi untuk melihat motorik kasar, motorik halus, indra pendengaran, indra penglihatan, kemampuan berbahasa, kemampuan berpikir, dan lain-lain. “Tujuannya untuk melihat kesiapan anak dalam menghadapi kurikulum kita,” ujarnya.

Apa kata psikolog tentang calistung di ujian masuk SD? Psikolog anak, Vera Itabiliana, menjelaskan masa sensitif anak untuk belajar membaca dan menulis adalah usia 5-6 tahun. Dikatakan masa sensitif, karena di usia tersebut anak lebih mudah untuk belajar.

“Sebenarnya saya masih percaya tugas belajar baca, tulis, hitung itu di SD. Paling nggak kalau mau masuk SD tidak harus lancar baca, tapi sudah mengenal huruf, merangkai suku kata, itu sudah cukup,” jelas Vera.

Terkait adanya tes masuk SD, menurut dia, tes semacam itu disebut tes kematangan atau kesiapan sekolah. Jadi yang lebih dilihat dalam tes itu adalah kesiapan anak, sosialisasi, dan kematangan emosi. “Misal ada anak yang masih di bawah 6 tahun atau di bulan Juli masih 5,5 tahun, direkomendasikan untuk ditunda dulu sampai emosinya siap. Ini yang lebih dibutuhkan,” kata Vera.

Soal akademis seperti nilai calistungnya, ucap Vera, anak bisa mengejarnya. Namun jika berhubungan dengan kematangan emosi, hal itu tidak bisa ‘dikarbitkan’. “Ada yang pintar calistung itu oke, tapi emosi belum matang. Misal ada anak yang masih harus ditemani saat masuk ruang tes, lalu mogok sekolah setelahnya, itu tandanya belum matang,” ucap Vera. {Sumber}