Posts Tagged ‘SD’

postheadericon #hariIBU

 

menyambut Hari IBU, kami turut merayakan. Berikut liputannya.

postheadericon Asah Motorik Halus

Foto: Tabloid Nakita

Aktivitas coret-coret disukai batita mulai usia 2 tahunan, ini terkait erat dengan perkembangan motorik halus. Coret-coret diyakini bisa membantu mengarahkan/mengasah perkembangan motorik halus anak yang nantinya dibutuhkan untuk menggambar, menulis dan pekerjaan lain yang mengandalkan tangan. Kalau awalnya cara memegang alat tulis si batita masih serampangan alias belum luwes seperti “kakak”nya atau orang dewasa, seiring dengan intensnya anak melakukan aktivitas coret-coret ini, kemampuan anak memegang alat tulis pun semakin baik.

Motorik halus sendiri diartikan sebagai kemampuan yang menyatukan keterampilan fisik dengan melibatkan koordinasi otot-otot halus. Artinya, tak hanya lengan yang bergerak, kegiatan coret-coret pun melibatkan pergerakan pergelangan tangan dan jari jemari. Dengan begitu fleksibilitas/kelenturan telapak tangan dan jari-jemari secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas akan semakin terlatih. Di antaranya menyuapkan sendok berisi makanan ke dalam mulut, mengenakan/melepaskan pakaian, maupun bermain dengan permainan yang membutuhkan koordinasi tangan. Kematangan perkembangan motorik halus ini nantinya juga akan membantunya menulis dengan lebih baik dan tak cepat lelah saat harus banyak menyelesaikan tugas sekolah terkait dengan tulis-menulis.

Fungsi motorik halus ini pada dasarnya sudah ada sejak anak lahir dan berkembang secara bertahap. Kendati faktor bawaan dapat mempengaruhi perkembangan motorik halus, akan tetapi stimulasi jauh lebih berperan. Dengan kata lain, meski anak lahir normal dan tidak mengalami gangguan perkembangan, stimulasi tetap diperlukan untuk lebih mengasah keterampilan tersebut hingga dapat berkembang lebih baik.

Jadi, kalau batita asyik melakukan aksi coret-coret, biarkan saja, dan jangan malah dilarang-larang. Kalau orangtua sering melarang anak bisa-bisa kreativitas, spontanitas, dan keberaniannya untuk mengekspresikan diri jadi terhambat. Tak hanya itu. Perkembangan motorik halusnya pun jadi tak optimal yang selanjutnya menghambat keterampilan bantu diri maupun keterampilan-keterampilan lainnya dan akan beruntun memengaruhi pembentukan citra dirinya. Mengingat pentingnya perkembangan motorik halus, aksi si batita untuk coret-coret justru perlu diakomodasi. Contohnya, orangtua perlu menyediakan perlengkapan menggambar, seperti kertas gambar, papan tulis, kapur/pensil warna, spidol ataupun krayon. Lengkapi pula dengan meja dan kursi gambar berukuran mini yang pas untuk postur tubuhnya. {Sumber}

postheadericon Tanda-Tanda Anak Siap Masuk SD

Foto: Tablod Nakita

Berikut tanda-tanda anak siap masuk SD:

  • Kemampuan motorik halus.

Anak bisa menulis sesuai dengan kemampuan usianya, menulis di buku, menggunting sesuai arahan guru, mengelem, menjahit dengan tali rafia, dan mampu mengikuti atau memindahkan tulisan (meniru).

  • Kemampuan motorik kasar.

Anak mampu baris-berbaris, dapat duduk tenang, rileks, bisa menempatkan posisi tubuhnya. Ketika bermain juga mampu memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Berjalan dan berlari dengan baik.

  • Kemampuan kognitif.

Anak dapat membaca kata-kata sederhana “i-bu”; dikte sederhana seperti, “satu”, “a”, “b”. Kemampuan ini harus dikuasai karena sebagian besar sekolah dasar menuntut anak bisa membaca dan menulis secara sederhana. Begitu pun kemampuan matematika (mampu menghitung sederhana, minimal sampai 20), baik penjumlahan atau pengurangan.

  • Kemampuan sosial emosional.

Antara lain, anak sudah mandiri: mampu mengurus dirinya sendiri, mengambil makanan sendiri, membuka sepatu, bermain dengan teman, bisa menerima guru siapa saja, tidak pilih-pilih guru atau teman. Anak pun siap bermain dengan teman, artinya kalau ada temannya usil harus mampu mengatasi, mampu mengatakan mau/tidak mau saat melakukan/disuruh sesuatu. {Sumber}

postheadericon Tips Mengajar Membaca di Kelas I SD

Dalam pembelajaran bahasa Indonesaia di Sekolah Dasar (SD), kita mengenal ada pembelajaran untuk kelas tinggi dan pembelajaran untuk kelas rendah. Yang dimaksud dengan pembelajaran kelas tinggi adalah pembelajaran untuk kelas IV, V, dan VI. Sedangkan pembelajaran kelas rendah meliputi pembelajaran untuk kelas I, II, III. Tentu saja pembelajaran untuk kelas tinggi tidak sama dengan pembelajaran untuk kelas rendah.

Pembelajaran membaca untuk kelas rendah pun harus mendapatkan perhatian yang serius. Khususnya untuk kelas I, guru harus berhati-hati dan cermat dalam menyusun perencanaan sekaligus pelaksanaannya. Hal ini penting karena kelas I merupakan fondasi bagi kelas-kelas berikutnya. Kelas I SD merupakan pintu gerbang bagi siswa memasuki dunia pendidikan formal. Sekali guru salah bertindak yang berdampak pada kegagalan siswa, akan sangat berpengaruh bagi kemajuan siswa selanjutnya. Itu sebabnya guru harus benar-benar berhati-hati.

Membaca merupakan keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras (Kridalaksana, 1993:135). Pengenalan dan pemahaman tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna ini sulit bagi siswa kelas I SD.

Ada banyak metode yang dapat digunakan guru untuk mengajar membaca di kelas I SD. Beberapa metode pembelajaran membaca yang terkenal, yaitu:

1. Metode Abjad. Mula-mula guru memperkenalkan huruf (abjad) kepada siswa: a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z. Selain yang dipasang di papan tulis, masing-masing huruf tadi juga perlu ditulis dalam sebuah kartu (satu huruf satu kartu).

Guru memberikan contoh cara membaca huruf-huruf di atas, dan siswa menirukan. Mula-mula bersifat klasikal (seluruh kelas), kemudian dipecah-pecah lagi menjadi separoh kelas, seperempat kelas, per dua bangku, akhirnya perorangan, kembali dua bangku, seperempat kelas, separoh kelas, dan kembali ke seluruh kelas.

Apabila pengenalan huruf tadi sudah lancar, maka guru mulai bisa menugaskan beberapa siswa untuk mengambil huruf-huruf tertentu dari kartu-kartu huruf yang tersedia. Biarkan siswa mengenal huruf-huruf itu tanpa makna karena tujuannya adalah mengenal dan memahami huruf (abjad). Lakukan kegiatan ini berulang-ulang sehingga siswa benar-benar mengenal dan memahami huruf-huruf itu.

Selanjutnya, kegiatan dapat ditingkatkan dengan membentuk kata. Pilih beberapa konsonan dan vokal, yang apabila digabungkan bisa menjadi kata yang bermakna. Misalnya: m a m a. Tempel atau tulis huruf m-a-m-a di papan tulis. Tunjukkan kepada siswa bahwa kata itu dibaca mama.

Kemudian tanyakan kepada siswa kata mama itu terdiri dari huruf apa saja, dan arahkan agar siswa dapat menyimpulkan sendiri bahwa apabila huruf m digabung dengan huruf a dibaca ma. Berikan contoh yang lain, misalnya: papananatata, dan lain-lain.

Begitu seterusnya, guru mulai menggabung-gabungkan konsonan dengan vokal, sehingga seluruh vokal (a, e, i, o, u) bisa digunakan. Namun untuk konsonan tidak perlu diberikan semua. Huruf x dan z lebih baik diberikan belakangan.

Setelah siswa bisa membaca gabungan dua huruf konsonan-vokal, susunan bisa diganti menjadi vokal-konsonan. Misalnya: amanas, dan lain-lain. Setelah ini baru bisa dilanjutkan dengan tiga huruf (konsonan-vokal-konsonan). Misalnya: mandanbas, dan lain-lain.

2. Metode Kupas-Rangkai Suku Kata. Berbeda dari metode abjad di atas, metode kupas-rangkai suku kata ini dimulai dengan pengenalan kata terlebih dahulu. Misalnya: mama. Kita perlu juga menjelaskan arti kata mama itu kepada siswa agar mereka mendapatkan makna dari apa yang dipelajari.

Kata mama kemudian dipisahkan menjadi dua suku kata yaitu ma danma (ma-ma). Masing-masing suku kata dikupas lagi menjadi huruf-huruf, sehingga siswa mengenal bahwa kata mama itu terdiri dari hurufmama.

Mengingat empat huruf (yang sebetulnya hanya dua huruf) ini tentunya lebih mudah bagi siswa daripada langsung mengingat empat huruf misalnya madu (m-a-d-u). Jadi, mulai dari yang mudah dan dekat dengan kehidupan siswa, maka siswa akan lebih berhasil. Kegiatan selanjutnya adalah mengenalkan kata-kata yang lain, sehingga pada akhirnya siswa bisa membaca sebuah kalimat, misalnya: ini mama saya; itu bola budi, dan lain-lain.

Contoh kata-kata yang mudah sebagai pendahuluan:
papa      pa-pa      p-a-p-a      pa-pa      papa
nana      na-na      n-a-n-a      na-na      nana
mata      ma-ta      m-a-t-a     ma-ta      mata

3. Metode Global. Menurut Teori Gestalt, suatu kesatuan lebih bermakna daripada bagian-bagian. Metode global dimulai dengan mengenalkan kalimat utuh kepada siswa. Contohnya: ibu makan nasi, disertai gambar, anak membaca tulisan tersebut, baru guru menjelaskan huruf-huruf yang dirangkai membentuk suku kata, kata, dan kalimat.

Kalimat-kalimat dipilihkan yang sederhana dan pendek-pendek dahulu, agar siswa tidak mengalami kesulitan.

4. Metode SAS — Struktural Analisa Sintesa. Metode SAS dilaksanakan dengan menggunakan kartu kalimat dan papan flanel. Mula-mula guru menunjukkan gambar kepada siswa (jika benda asli bisa dihadirkan tentunya lebih baik jika benda asli ditunjukkan terlebih dahulu).

Misalnya guru menunjukkan bola kepada siswa, kemudian berkata, ”Anak-anak, ini bola.” Suruh siswa mengulangi kata-kata guru. ”ini apa?” Siswa menjawab, ”ini bola.” Apabila siswa hanya menjawab bola saja, maka guru perlu membetulkan ucapan siswa, ”ini bola.” Guru menyuruh siswa menirukan kata-kata guru.

Kegiatan selanjutnya, guru menempelkan gambar bola di papan tulis. Di bawah gambar bola itu ditempelkan tulisan ini bola. Guru menunjukkan contoh membaca tulisan ini bola, dan siswa disuruh menirukan. Pastikan bahwa siswa seluruh kelas memperhatikan tulisan ketika mengucapkan kalimat ini bola. Gambar diambil, tulisan ini bola tetap tertempel di papan tulis. Guru menyuruh siswa membaca kembali tulisan ini bola tadi.

Kegiatan selanjutnya adalah menganalisis kalimat ini bola, menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf. Setelah itu, huruf-huruf dikembalikan menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat (sintesa).

Berikut adalah contohnya: membaca kalimat, gambar tidak diperlihatkan.

ini bola
ini     bola
i    ni       bo   la
i   n   i       b   o   l   a
i    ni       bo la
ini    bola
ini bola

Komentar: Metode-metode di atas hanyalah contoh. Guru dapat menggunakan metode-metode lain sesuai dengan kondisi di lapangan. Namun yang harus diingat, metode apa pun yang digunakan, siswa harustetap enjoy dalam belajar.

Selain itu guru harus mempertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan indera belajar siswa. Artinya, pembelajaran yang dilaksanakan guru bersama siswa harus bisa memenuhi kebutuhan siswa yang dominan baik di Visual, Auditorial, maupun Kinestetik.

Sebab itu dalam pembelajaran harus ada: gambar, benda nyata, tulisan, dan lain-lain (yang isa diamati atau dilihat oleh kelompok Visual); suara yang bisa didengar atau huruf, kata, kalimat yang bisa diucapkan (untuk kelompok Auditorial); serta siswa bisa melakukan manipulasi benda atau alat-alat pelajaran (untuk kelompok kinestetik).  {Sumber}