Archive for February, 2015

postheadericon Lebih dekat bersama Maria Montessori

Biografi Dr Maria Montessori

Maria Montessori lahir pada tanggal 31 Agustus 1870 di kota Chiaravalle, Italia. Ayahnya, Alessandro, dulunya seorang akuntan negeri sipil, and ibunya, Renilde Stoppani, adalah seorang yang berpendidikan dan memiliki hasrat yang besar terhadap membaca.
Keluarga Montessori pindah ke Roma pada tahun 1875, dan pada tahun berikutnya Maria yang masih muda mendaftar di sekolah negeri di Via di San Nicolo da Tolentino. Seiring dengan perkembangan pendidikannya, ia mulai menerobos hambatan yang membatasi karir wanita pada saat itu. Sejak 1886 sampai 1890 ia melanjutkan pendidikannya di Regio Instituto Tecnico Leonardo da Vinci, dimana ia masuk kesana dengan keinginan untuk menjadi seorang teknisi mesin. Hal ini adalah sesuatu yang tidak biasa dimana pada saat itu kebanyakan gadis yang mengejar pendidikan lanjut mempelajari hal-hal klasik dibandingkan masuk ke sekolah teknik.
Setelah kelulusannya, orang tua Montessori mendorongnya untuk mengambil karir dalam bidang pengajaran, yaitu salah satu dari beberapa pekerjaan yang terbuka untuk wanita pada saat itu, akan tetapi ia memutuskan untuk masuk ke sekolah kedokteran dan menjadi seorang dokter. Ayahnya tidak menyetujui hal tersebut—sekolah kedoketeran pada akhirnya juga hanya menerima pria—dan rupanya Maria ditolak untuk masuk oleh kepala sekolah. Ia tidak terkejut, rupanya ia mengakhiri ketidaksuksesan wawancaranya dengan profesor dengan mengatakan “Aku tahu bahwa aku akan menjadi dokter”.
Pada akhirnya, Paus Leo XIII tampak seperti campur tangan atas namanya. Pada tahun 1890 Montessori mendaftar di Universitas Roma untuk belajar fisika, matematika, dan ilmu pengetahuan alam, ia menerima gelar diploma dua tahun kemudian. Hal tersebut dan atas campur tangan Paus memungkinkannya untuk memasuki jurusan kedokteran, dan ia pun menjadi wanita pertama yang masuk sekolah kedokteran di Italia. Montessori menonjol tidak hanya karena jenis kelaminnya, tetapi juga karena dia memang benar-benar berkeinginan untuk menguasai materi pelajaran. Ia memenangkan serangkaian beasiswa di sekolah kedokteran dimana, bersama dengan uang yang ia peroleh melalui pendidikan swasta, memungkinkannya untuk membayar sebagian besar pendidikan medisnya.

Read the rest of this entry »

postheadericon 5 Cara Membantu Anak Mendengarkan

Sebagai orang tua, saya pikir kita selalu mencari cara yang dapat membantu agar anak mendengarkan.

Sementara hal tersebut mungkin bukan bagian yang paling menarik sebagai orang tua, membuat anak mendengarkan adalah suatu hal yang masih diperjuangkan oleh banyak orang tua. Saya bukan seorang pakar pola asuh (dan tidak akan mengklaim demikian), akan tetapi sebagai seorang Ibu dan mantan guru, saya telah mempelajari beberapa tips dasar yang dapat membantu pekerjaan kita sebagai orang tua menjadi sedikit lebih mudah.

1.)    “ Oee’-Oee’ ”

Saya selalu tertawa saat saya menonton Charlie Brown dan suara-suara orang dewasa dalam kartun tersebut bagaikan suara terompet yang teredam – tidak ada cara untuk mengetahui apa yang orang dewasa SEBENARNYA katakan. Tahukan Anda? Hal itu benar-benar terjadi kepada anak-anak kecil! Dengarkan suara Anda. Ketika nada suara Anda tetap konsisten dengan tidak adanya variasi dalam volume atau irama, hal itu sangatlah membosankan dan tidak akan membuat anak tetap tertarik. Dan, seperti halnya dalam Charlie Brown, Anda akan mulai terdengar seperti suara latar belakang yang bising. Anda telah kehilangan minat anak Anda. Cobalah ini sebagai gantinya:

–          Variasikan cara bicara Anda kepada anak.

Berbisik adalah cara yang sering saya gunakan, dan hal itu dapat membantu untuk meringankan situasi.

 

2.)    Katakan apa yang Anda maksudkan

Daripada mengatakan kepada anak mengapa mereka telah berperilaku salah… dan mengapa Anda harus mengatakan kepada mereka bahwa hal tersebut tidak baik… dan bahwa akan ada konsekuensi untuk tindakan tersebut… dan Anda tidak akan mentolerasi tindakan itu lagi… dan… dan… katakan sajalah apa yang Anda maksud!

Berikut apa yang saya lakukan secara spesifik: Read the rest of this entry »