Categories
PAUD

Bayi Mampu Belajar Multibahasa

Pasangan yang berkomunikasi dengan dua bahasa berbeda, atau orangtua yang ingin mengenalkan dua bahasa kepada si kecil tak perlu khawatir. Bayi bisa memahami dua bahasa saat ia mulai belajar berkomunikasi.

Bayi memiliki kemampuan alami untuk memelajari bahasa termasuk bilingual. Bahkan kemampuan bayi ini lebih baik dibandingkan orang dewasa.

William O’Grady, penulis How Children Learn Language mengatakan orangtua bisa memulai pendidikan multibahasa kepada anak sedini mungkin, di bawah satu tahun. Dengan begitu bayi dapat dengan mudah menguasai semua perbedaan fonetik halus dalam pengucapan yang akan memungkinkan dia untuk berbicara dalam bahasa asing dengan sedikit atau tanpa aksen.

Masa emas inilah yang bisa orangtua manfaatkan untuk melatih kemampuannya berbahasa. Sebab di atas usia satu, kemampuan ini mulai menurun.

Nah, untuk membantu bayi menyerap bahasa kedua (bukan bahasa ibunya), pastikan bayi mendalaminya. Artinya, tidak cukup mengajarkan bahasa lewat obrolan saja.

Orangtua bisa melatih kemampuan berbahasa bayi lewat musik dan buku. Anda bisa menyanyikan lagu atau membacakan cerita. Jika ingin bayi Anda menguasai multibahasa, lakukan aktivitas ini secara bilingual.

Jangan terlalu bergantung pada mainan, buku, DVD atau CD bilingual. Semua perlengkapan ini memang membantu. Namun, tak ada yang lebih hebat dibandingkan suara asli ayah ibunya. Bayi akan lebih mahir berbahasa jika dilatih langsung oleh suara orangtuanya. {Sumber}

Categories
PAUD

Ini alasan mengapa PAUD penting bagi perkembangan anak

Balistung_iconPendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap penting bagi perkembangan anak. Pendidikan yang diberikan untuk anak berusia 3-5 tahun ini tidak hanya mengenalkan anak pada aktivitas fisik dan berkenalan dengan teman sebaya, tetapi juga beberapa manfaat lain.

“Kegiatan di PAUD dapat memberi rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang ana usia prasekolah. Seluruh aktivitasnya dilakukan melalui pendekatan bermain sambil belajar,” ujoar Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, atau kerap disapa Prof Reni, selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI), dalam acara Nutritalk: Menumbuhkan Kecintaan Anak pada Gizi Sejak Dini, yang diadakan di Restoran Kembang Goela, Plaza Sentral, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (21/5/2013).

Selain memberikan kesempatan pada anak untuk mengenal sekolah, kegiatan-?kegiatan di PAUD juga menanamkan kejujuran, disiplin, dan berbagai hal positif lain. Anak yang sebelumnya mendapatkan pendidikan di PAUD seringkali memiliki kemampuan untuk komunikasi lebih baik saat sekolah. Hal ini dikarenakan ia sudah terbiasa untuk bermain, belajar, hingga makan bersama dengan teman yang memiliki usia sebaya.

“Remaja yang memiliki masalah mental, seringkali dicari kemungkinan pernah mengalami trauma saat kecil. Ini karena pendidikan karakter sangat baik dimulai sejak dini, oleh karena itu sejak masih berusia prasekolah anak penting untuk diberikan contoh dan kegiatan positif,” imbuh Prof Reni.

Bagaimana memilih PAUD yang baik untuk anak? Prof Reni mengungkapkan, yang paling penting adalah memerhatikan jarak tempuh dari rumah ke PAUD. Sebaiknya jangan memilih PAUD yang lokasinya terlalu jauh. Sebab, jika anak sudah letih dalam perjalanan, ia cenderung akan malas untuk beraktivitas kembali.

“Kemudian perhatikan juga latar belakang pendidik, ini sangat berpengaruh pada bagaimana pola pengajaran yang akan ia terapkan. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kurikulum PAUD, serta sarana dan prasarana yang terdapat di PAUD,” ujar Prof Reni, yang saat ini juga aktif sebagai Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia.

Meskipun nantinya anak sudah mendapatkan pendidikan di PAUD, bukan berarti ibu tidak perlu memberikan pendidikan lanjut di rumah. Prof Reni menyarankan orang tua, khususnya ibu, untuk tetap ‘mengawal’ pendidikan anak. Ini dikarenakan ibu memiliki peran sebagai pendidik utama bagi anak. {Sumber}

Categories
Calistung PAUD

Perkembangan Si Lima Tahun

Di usia 5 tahun pertambahan berat badannya kurang lebih 2 kg/tahun, dengan tinggi badan kurang lebih 2 kali tinggi saat lahir.

Perkembangan motorik kasar:

  • Mampu berlari.
  • Menikung dan berhenti dengan terkontrol.
  • Melompat ke depan 10 kali tanpa terjatuh.
  • Berjalan di atas papan keseimbangan.

Perkembangan motorik halus:

  • Mewarnai dengan lebih rapi.
  • Melipat pakaian.
  • Menggambar dan menulis.

Perkembangan kognitif:

  • Mampu menyusun menurut rangkaian/urutan tertentu (sequence).
  • Logika berpikirnya makin sistematis.

Perkembangan emosi:

  • Anak mulai “iri hati” (dalam artian ingin memiliki benda/mainan seperti temannya).
  • Kalau sudah mempunyai adik sesekali ia akan menunjukkan rasa cemburu, namun di lain waktu akan menunjukkan rasa sayangnya.

Perkembangan bahasanya:

  • Menguasai 1.000-1.500  kosakata.
  • Makin lancar berbicara termasuk mengucapkan huruf yang sulit seperti “r.
  • Menggunakan kata ganti “saya” dan “kamu” dengan tepat tanpa terbolak-balik.

Perkembangan sosial kemandirian:

  • Bisa makan sendiri dengan lebih tertib.
  • Mandi sendiri.
  • Bisa berbagi seperti membagi bekal yang dibawa dengan teman sekolahnya.
  • Mengucapkan permisi/tolong/terima kasih dengan tepat.

 {Sumber}