Categories
Tulis

Tahapan Menulis untuk PAUD

baca tulisa. Menulis pra-alpabet adalah tulisan yang dibuat tidak berbunyi atau tidak dapat dibaca. Anak sekedar menulis berupa coretan atau gambar yang tidak memiliki makna bacaan. Coretan ini berupa simbol gambar yang menggambarkan imajinasi anak. Adapun tahapan prealphabetic ini meliputi :

1) Coretan Bebas, berupa coretan-coretan acak yang diciptakan dari garis hasil gerakan sederhana tangan.

2) Coretan terkontrol, yaitu tulisan terarah dimunculkan dalam bentuk garis lurus ke atas atau mendatar yang diulang-ulang.

3) Coretan Bermakna, anak mulai memberi label atau penjelasan mengenai coretan mereka dan melihat hubungan antara tanda dikertas dan ide, benda serta objek.

b. Menulis Alpabet
1) Kegiatan Awal Menulis Kata, anak mulai menulis rentetan huruf-huruf yang dapat dibaca, tetapi belum mengenal spasi.

2) Menulis Rangkaian Kata, anak mulai perduli terhadap bunyi bacaan yang berhubungan dengan simbol walaupun tidak berhubungan dan selalu menggunakan huruf kapital juga belum memakai spasi.

3) Menulis Kalimat, anak menggunakan huruf kapital atau huruf kecil secara bercampur, mulai mengenal spasi antar kata, dan dapat menulis kalimat. {Sumber}

Categories
Tulis

Mengajar Anak Usia TK Menulis

AJARI ANAK MENULIS HURUF LEBIH KECIL

Jangan anggap sebelah mata pelajaran yang satu ini. Motorik halusnya terasah dan tulisan tangannya makin terbaca.

“Buat apa di zaman globalisasi begini anak masih dikasih pelajaran menulis halus? Mending diganti pelajaran lain, deh, seperti mengetik dengan komputer.” Begitu ketidaksetujuan yang kerap terdengar di kalangan orang tua. Mereka menganggap pelajaran menulis halus hanya buang-buang waktu. Toh, ada komputer yang bisa menghasilkan tulisan rapi.
Kendati begitu, grafolog Nungki Nilasari, S.Psi. mengingatkan pentingnya manfaat menulis halus. “Bukan sekadar mempercantik atau merapikan tulisan, lo, tapi juga melatih anak melakukan berbagai hal berikut:

– Menulis Cepat

Menulis halus untuk menghasilkan huruf yang saling bersambung dilakukan tanpa perlu mengangkat pensil. Ini berbeda dengan menulis balok yang mengharuskan anak acap kali mengangkat pensilnya. Proses menulis pun jadi lebih lambat, sementara anak juga lebih mudah lelah.

Kelak, jika terbiasa menulis halus, anak tetap bisa menulis cepat tanpa menghilangkan kerapian dan keindahan tulisannya. Tentu saja kerapian dan keindahan tulisan mustahil dicapai dalam waktu singkat. Jadi, butuh pelatihan kontinyu untuk mendapatkan hasil yang baik.
– Melatih Motorik Halus

Sebenarnya, latihan ini tak hanya didapat lewat menulis halus, tapi juga menulis balok. Namun biasanya dengan latihan menulis halus, anak cenderung memperhatikan patokan baku, yakni mengikuti patokan garis 5 atau 3. Contohnya, bulatan huruf “a” tidak boleh melebihi garis, begitu juga kaki dan tiangnya tidak boleh lebih panjang dari garis yang membatasinya. Demikian halnya dengan aturan menyambungnya yang mesti mengikuti kaidah tebal-tipis.
– Merangsang Kerja Otak

Dengan menulis halus, mau tidak mau anak mesti “memutar” otaknya untuk bekerja. Bagaimana dia harus membentuk huruf, menyambungnya, mengikuti garis yang ada, dan sebagainya. Dengan kata lain, otak tidak dibiarkan menganggur, tapi digunakan untuk kegiatan bermanfaat. Bukankah ini berarti menulis halus merupakan salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan anak secara umum.

DAHULUKAN HURUF BALOK

Konsultan perkembangan anak di Parents Consulting Centre, Jakarta Selatan ini berpendapat, anak lebih baik diajarkan menulis huruf balok terlebih dulu. Bagaimanapun, memperkenalkan sesuatu pada anak harus dimulai dengan yang lebih mudah. Sementara huruf balok relatif lebih mudah dikuasai anak karena dalam menuliskannya tidak perlu disambung dengan huruf yang mengawali ataupun mengikutinya.

Yang juga penting untuk diingat, dengan menuliskan huruf balok, umumnya anak lebih mudah untuk melihat bentuk dan membacanya. Hal ini akan memicu anak untuk melakukannya lagi dan lagi yang akan kian memupuk rasa percaya diri anak. Berbeda benar bila hasil yang didapat tidak bisa langsung dinikmatinya berupa bentuk kriwil-kriwil saat ia menuliskan huruf sambung. Bukan tidak mungkin, lo, anak akan minder atau patah semangat saat ia merasa tidak mampu menuliskan huruf-huruf sambung tersebut. Atas dasar pertimbangan-pertimbangan itulah, umumnya menulis halus baru diajarkan kalau anak sudah mampu dan memahami huruf balok dengan baik. “Di sekolah biasanya huruf halus diajarkan di akhir semester kelas 1 atau awal kelas 2,” ujar Nungki.

Setelah mengerti penulisan huruf balok, barulah anak dikenalkan pada aktivitas menulis halus yang lebih kompleks dan lebih tinggi tingkat kesulitannya. Berbeda dengan huruf balok, saat menulis huruf sambung yang berlekak-lekuk, anak dituntut terampil menyambung huruf tersebut, baik dengan huruf yang mengawali maupun setelahnya.

“Ketika mengajarkan huruf halus,” lanjut Nungki pula, “beri contoh nyata di papan tulis karena anak usia ini masih membutuhkan sesuatu yang konkret.” Percuma saja dijelaskan panjang lebar jika tanpa disertai contoh karena anak tidak akan mengerti apa yang diucapkan guru. Jadi, jelaskan bagaimana bentuk masing-masing huruf, di mana ia harus menempatkan bulatan, tiang, atau kaki huruf pada setiap garis batas dan bagaimana pula cara menyambungnya. Jelaskan pula, bahwa huruf-huruf seperti itulah yang disebut huruf sambung.
Ketika pertama kali mengajari anak menulis halus, biasanya akan muncul banyak keluhan. “Wajarlah karena kemampuan motorik halus anak memang belum matang. Ia masih mengalami kesulitan untuk mematuhi batas-batas garis. Nah, agar anak tetap menunjukkan usaha memperbaikinya, guru maupun orang tua jangan sekali-kali menunjukkan sikap melecehkan, tapi beri dukungan dengan menyemangati dan membantu mengarahkannya.
AJARKAN BERTAHAP

Baik orang tua maupun guru, hendaknya memahami perbedaan kemampuan tiap anak yang memang sifatnya amat individual. Ada yang cepat daya tangkapnya, ada juga yang lambat. Ada yang tulisannya bagus dan enak dibaca, namun tak sedikit yang membentuk kriwil-kriwil yang sama sekali sulit dibaca. Dengan kata lain, “Jangan pernah membanding-bandingkan kemampuan anak yang tulisannya bagus dengan anak yang tulisannya jelek,” tandas Nungki. Berikut hal-hal teknis yang bisa disampaikan kepada anak:

Ajari anak memegang pensil secara benar menggunakan tiga jemari, yakni ujung ibu jari, ujung telunjuk, dan ujung jari tengah. Jepit pensil di antara ketiga jari tadi sambil menekannya agak kuat. Bila anak belum bisa memegangnya dengan sempurna, ajarkan dulu, jangan langsung memintanya menulis. Posisi memegang pensil yang benar akan membuatnya nyaman saat menulis.

Jelaskan pula posisi tubuh yang benar, yakni dengan duduk tegak namun tidak kaku, kertas tegak lurus dengan posisi meja dan jangan dimiringkan. Jarak antara mata dengan tulisan sekitar 30 cm, sementara salah satu tangan digunakan untuk menahan buku agar tidak bergeser.
Arahkan anak untuk membentuk huruf balok dulu, baru kemudian menuliskan huruf halusnya. Dengan begitu anak memiliki pembanding. Secara perlahan buatlah guratan, hingga anak dapat mengikuti arah guratan tersebut. Agar jelas, buatlah dalam ukuran besar lebih dulu. Lakukan berulang-ulang sampai anak bisa mengikutinya. Jangan berpindah huruf sebelum anak benar-benar memahami cara menuliskan masing-masing huruf.

Bisa juga mengajarkannya dengan menghubungkan titik-titik yang sudah berbentuk huruf.
Bila ada buku panduan, manfaatkan dengan meminta anak menjiplak masing-masing huruf.
Setelah anak memahami penulisan huruf demi huruf, mintalah untuk menyambungkannya. Misal, “a” disambung huruf “b”, “c” dengan “i”, “d” dengan “u”, dan seterusnya.
Kalau anak sudah menguasai cara penulisannya, mintalah untuk membuat kata-kata dan kalimat sederhana sambil mengajarkannya untuk lebih tertib menggunakan jarak antarkata maupun spasi antarbaris.

Jangan lupa, perhatikan kondisi anak saat menulis. Kalau ia tenang, maka biasanya ia dapat menulis dengan lancar. Bila bosan atau emosional, maka tulisannya akan terpengaruh.
FAKTOR PEMBEDA

Menurut Nungki ada beberapa faktor yang membuat kemampuan anak dalam menulis ini berbeda-beda. Di antaranya:

– Kontrol Tangan

Hal ini terkait dengan kemampuan motorik halus anak. Bila kemampuan motorik halusnya jelek, sangat mungkin ia tidak mampu menulis huruf dengan baik. Gangguan motorik halus yang masih dalam taraf normal, menurut Nungki bisa ditangani dengan latihan keterampilan yang lebih tekun, umpamanya dengan mengajarkan melipat kertas, menggunting, mengancingkan baju, menggambar, mewarnai, dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat meningkatkan kemampuan anak mematangkan koordinasi gerak tangannya.
Sebaliknya, pada anak yang memiliki kemampuan kinestetik lebih, biasanya akan mampu menerima pelajaran menulis secara lebih cepat. Bukan tidak mungkin pula si anak berbakat dalam hal menulis indah/kaligrafi atau malah menjadi pelukis.

– Kemampuan Visualisasi

Kemampuan ini pun perlu dikuasai karena tidak sedikit anak mengalami kesulitan memvisualisasikan bentuk. Contohnya, ia selalu menuliskan huruf “o” seperti huruf “a”. Gangguan kemampuan ini disebabkan oleh ketimampuan anak mendeskripsikan masing-masing huruf. Misalnya, “o” itu mesti bulat, “i” harus lurus seperti tiang listrik, “p” berkepala, “m” berkaki tiga dan seterusnya.

Bila kesalahan semacam ini terjadi terus-menerus dan dalam jangka waktu lama, padahal sudah diajarkan berulang-ulang, guru dan orang tua harus curiga. Mungkin ada gangguan tertentu, seperti disleksia, di mana anak dengan gangguan ini tidak bisa membedakan huruf.
– Masalah Emosional

Mau tidak mau, kondisi emosional yang tidak stabil akan mempengaruhi kemampuan anak menulis. Bila di rumahnya selalu ada masalah, entah karena kekangan orang tuanya atau
karena keinginan-keinginannya yang tidak pernah terpenuhi, jangan terlalu berharap tulisan anak akan bagus. Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan, anak yang sangat emosional karena banyak masalah umumnya akan menghasilkan tulisan berupa huruf-huruf yang mengecil dan kurang beraturan. Sebaliknya, mereka yang emosinya stabil konon tulisannya cenderung membesar dan lebih rapi.

Benarkah Cermin Kepribadian?

Menurut Nungki, memang ada korelasi antara tulisan yang rapi dengan kepribadian yang rapi teratur. Lewat grafologi atau ilmu “membaca” tulisan biasanya bisa terlihat mana orang yang termasuk berkepribadian rapi/teratur dan mana yang tidak. Setidaknya, dari situ tercermin standar kerapian seseorang, entah kerapian dalam berpakaian atau
kerapian secara umum.

Hanya saja, model tulisan anak usia SD belum menetap. Masih ada kemungkinan untuk berubah kelak berdasarkan pengaruh situasi emosi dalam dirinya. Selama di SD ia mungkin hanya mengikuti semua instruksi gurunya, dan kondisi emosionalnya juga relatif stabil. Tidak tertutup kemungkinan garis huruf yang tadinya tegas menjadi kurang tegas, yang semula mengalur halus menjadi berbelok-belok, dan

yang awalnya kecil menjadi besar-besar. Sementara setelah dewasa, anak memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri model tulisannya, disamping pengaruh faktor emosional yang relatif kurang stabil dibanding usia anak. {Sumber}

Categories
SD Tulis

Asah Motorik Halus

Foto: Tabloid Nakita

Aktivitas coret-coret disukai batita mulai usia 2 tahunan, ini terkait erat dengan perkembangan motorik halus. Coret-coret diyakini bisa membantu mengarahkan/mengasah perkembangan motorik halus anak yang nantinya dibutuhkan untuk menggambar, menulis dan pekerjaan lain yang mengandalkan tangan. Kalau awalnya cara memegang alat tulis si batita masih serampangan alias belum luwes seperti “kakak”nya atau orang dewasa, seiring dengan intensnya anak melakukan aktivitas coret-coret ini, kemampuan anak memegang alat tulis pun semakin baik.

Motorik halus sendiri diartikan sebagai kemampuan yang menyatukan keterampilan fisik dengan melibatkan koordinasi otot-otot halus. Artinya, tak hanya lengan yang bergerak, kegiatan coret-coret pun melibatkan pergerakan pergelangan tangan dan jari jemari. Dengan begitu fleksibilitas/kelenturan telapak tangan dan jari-jemari secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas akan semakin terlatih. Di antaranya menyuapkan sendok berisi makanan ke dalam mulut, mengenakan/melepaskan pakaian, maupun bermain dengan permainan yang membutuhkan koordinasi tangan. Kematangan perkembangan motorik halus ini nantinya juga akan membantunya menulis dengan lebih baik dan tak cepat lelah saat harus banyak menyelesaikan tugas sekolah terkait dengan tulis-menulis.

Fungsi motorik halus ini pada dasarnya sudah ada sejak anak lahir dan berkembang secara bertahap. Kendati faktor bawaan dapat mempengaruhi perkembangan motorik halus, akan tetapi stimulasi jauh lebih berperan. Dengan kata lain, meski anak lahir normal dan tidak mengalami gangguan perkembangan, stimulasi tetap diperlukan untuk lebih mengasah keterampilan tersebut hingga dapat berkembang lebih baik.

Jadi, kalau batita asyik melakukan aksi coret-coret, biarkan saja, dan jangan malah dilarang-larang. Kalau orangtua sering melarang anak bisa-bisa kreativitas, spontanitas, dan keberaniannya untuk mengekspresikan diri jadi terhambat. Tak hanya itu. Perkembangan motorik halusnya pun jadi tak optimal yang selanjutnya menghambat keterampilan bantu diri maupun keterampilan-keterampilan lainnya dan akan beruntun memengaruhi pembentukan citra dirinya. Mengingat pentingnya perkembangan motorik halus, aksi si batita untuk coret-coret justru perlu diakomodasi. Contohnya, orangtua perlu menyediakan perlengkapan menggambar, seperti kertas gambar, papan tulis, kapur/pensil warna, spidol ataupun krayon. Lengkapi pula dengan meja dan kursi gambar berukuran mini yang pas untuk postur tubuhnya. {Sumber}